Bharada E hingga Ferdy Sambo Jalani Tes Kebohongan, Pakar: Lie Detector Bisa Dikelabui

Posted on

Selebtek.kasin777 – Polisi menggunakan alat bantu lie detector (pendeteksi kebohongan) sebagai bagian dari pengusutan kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Beberapa tersangka kasus tersebut telah menjalani tes kebohongan dan hasilnya sudah terungkap.

Tersangka Bharada E, Bripka RR, dan KM berhasil melewati lie detector dan tidak terdeteksi berbohong alias jujur. Namun hasil ini menimbulkan pro kontra termasuk soal akurasi alat yang digunakan.

Praktisi lie detector, Handoko Gani, mengatakan alat bernama polygraph yang digunakan untuk tes kebohongan memiliki tingkat akurasi sampai hampir 100 persen.

“Kalau kita berbicara kisaran poligraf dan LPA, itu sekitar 93, 95, sampai 97,” jelas Handoko di acara Apa Kabar Indonesia Pagi yang ditayangkan di kanal YouTube tvOneNews, sebagaimana dikutip kasin777, Kamis (8/9/2022).

Baca Juga:Belum Puas Dengan Performa di Laga Kontra RANS Nusantara FC, Luis Milla Terus Benahi Persib Bandung

Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi hasil deteksi dengan poligraf tersebut. Bahkan, ditegaskan Handoko, ada beberapa metode yang bisa diajarkan untuk mengelabui pengujian dengan lie detector.

“Ini tentang kredibilitas dari setiap alat, (tapi) ada pengajar yang mengajarkan bagaimana caranya meng-counter lie detector. Pengetahuan saya (biasanya) memang untuk intelijen, mereka juga diajarkan cara untuk lolos dari poligraf itu,” tutur Handoko.

Menurut Handoko, kebanyakan orang awam tidak akan semudah itu lolos ketika diuji dengan lie detector, sekalipun mereka diklaim sudah terbiasa berbohong. Justru, orang-orang dengan sifat seperti psikopat lah yang akan sulit dideteksi dengan lie detector.

“Masyarakat berpikir bahwa orang yang sering berbohong itu pasti lolos lie detector, tidak, salah. Yang bisa lolos itu salah satunya adalah psikopat,” kata Handoko.

“Yang dengan kata lain mereka tidak bisa membedakan antara realita dan rekayasa, realitas dengan kebohongan atau imajinasi, itu dia bisa lolos. Kita istilahkan ini konslet,” lanjutnya.

Baca Juga:Sambo di Multiverse Lain, Belah dan Potong Durian di Pinggir Jalan, Warganet: Lebih Berkah

Menurut Handoko, diperlukan kerjasama banyak organ di bawah komando otak ketika seseorang berbohong. Biasanya alat lie detector mampu mendeteksi dari apa yang disiratkan otak seseorang.

“Nah selama masih pathological liar itu masih bisa, artinya masih ada hati nurani. Jadi dia tahu dia berbohong tapi tidak bisa menahan, nah ini masih bisa terdeteksi karena otak ini tetep menyatakan kita sedang berbohong,” pungkas Handoko.

Tersangka Putri Candrawathi juga telah menjalani tes dengan lie detector seperti para tersangka lain. Sementara itu Ferdy Sambo, otak kasus pembunuhan Brigadir J menjalani tes kebohongan pada hari ini.

Dittipidum Bareskrim Polri memeriksa Sambo menggunakan uji kebohongan (poligraf) di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri di Cipabua Sentul, Jawa Barat.

Lembaga Kajian Strategis Kepolisian (Lemkapi) meminta hasil uji kebohongan (lie detector) tersangka kasus Ferdy Sambo tidak dijadikan sebagai alat bukti. Namun, hanya untuk pembanding.

“Jangan menjadikan hasil ‘lie detector’ tersangka sebagai ukuran kebenaran dalam peristiwa kematian Brigadir J meskipun hasilnya dinyatakan jujur,” kata Direktur Eksekutif ¬†Lemkapi ¬†Dr Edi Hasibuan, Kamis.(*)



Buy Instagram Verified